Rabu, 19 Agustus 2009

EROSI MAKNA MAULUDAN

Oleh : Mursana, M.Ag.

Menurut sejarah Islam, ketika perang salib banyak sekali tokoh sejarah Islam yang gugur dalam pertempuran melawan kaum Nasrani. Maka pada zaman Salahudin Al-Ayubi diadakan sayembara membuat karya tulis khususnya sejarah perjuangan Rasulullah Saw (Sirah Nabawy). Sayembara itu dimaksudkan agar umat Islam di masa yang akan datang mengetahui sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi Muhammad Saw, melalui karya tulis terbaik dari para pemenang lomba tersebut. Setelah mengetahui sejarah-Nya diharapkan agar umat Islam menjadikan Beliau sebagai contoh tauladan yang baik, Uswatun hasanah, dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perkembangannya, hasil sayembara karya tulis sejarah Nabi Muhammad Saw, selalu dibaca oleh umat Islam setiap saat, terlebih lagi pada bulan Rabi’ul awal. Bacaan sholawat dan sanjungan terhadap-Nya selalu dikumandangkan dengan irama yang harmony, senantiasa terdengar di Masjid, Musholla dan Majelis Ta’lim. Di beberapa daerah pembacaan sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi Saw yang termuat dalam Majmu’ah Mawalid dibaca dalam upacara peringatan Maulud Nabi Saw. Tepatnya pada tanggal 12 Rabiul Awal, sehingga acara tersebut terkenal dengan sebutan Mauludan.
Secara bahasa Mauludan berarti hari dilahirkan Nabi Muhammad Saw. Sedangkan menurut istilah yang berkembang di masyarakat, Mauludan ialah suatu acara yang dilakukan oleh kelompok masyarakat dalam rangka memperingati hari lahirnya Nabi akhir zaman. Setiap wilayah di tanah air ini mempunyai tradisi dan istilah yang berbeda dalam acara Mauludan. Begitu halnya di wilayah Cirebon : di Trusmi Plered terkenal terkenal dengan Selawenane dan di Keraton Kanoman terkenal dengan Panjang Jimat.
Panjang Jimat bermakna sesuatu yang dihormati secara terus menerus. Sebagian orang percaya ketika mengikuti ritual panjang jimat akan mendapat berkah dari Allah SWT. Setiap tahun, pada bulan Rabi’ul awal menjelang Mauludan (12 Rabiul awal), ratusan pedagang yang datang dari berbagai daerah memadati kawasan Keraton Kanoman. Tidak ketinggalan para pengemis, tukang falak, copet, bahkan (mohon ma’af) para pekerja seks komersial (PSK) pun ikut mengais rizki dalam rangka mencari keberkahan Mauludan.

Kronologi Ritual Panjang Jimat
Seperangkat gamelan peninggalan puteri Sunan Gunung Jati, yang disebut sebagai Gong Sekati, dikeluarkan dari tempat penyimpanannya. Gong sekati ini akan dibersihkan di Musala Keraton Kanoman.
Pencucian Gamelan Sekaten dengan menggunakan air sumur langgar Keraton dilakukan para abdi dalem yang berasal dari Desa Sindangkasih Kec. Greged Kab. Cirebon. Sejak dulu warga Desa Sindangkasih yang terletak di arah selatan kota Cirebon ini dipercaya dapat menjaga kehormatan benda-benda pusaka milik Keraton. Gong sekati bukan sekedar alat musik biasa. Air bekas mencuci gamelan diperebutkan banyak orang, kebanyakan mereka percaya bahwa air ini akan memberi berkah kepada mereka yang mendapatkannya.
Perilaku warga seperti ini bisa jadi karena latar belakang keberadaan Gamelan Sekaten di Cirebon. Gong sekati merupakan hadiah pernikahan bagi puteri Sunan Gunung Jati dengan Adipati Unus dari Demak. Ketika Gamelan Sekaten dibawa ke Cirebon, Dewan Wali Songo memanfaatkannya sebagai sarana penyampaian pesan moral dalam penyebaran Islam di pulau Jawa. Saat itu budaya tanah Jawa masih dalam peralihan dari Hindu – Budha ke masa Islam. Selanjutnya banyak yang percaya, Gong sekati memiliki Kharisma, sebagaimana pemilik benda ini dahulu. Usai pencucian, Gamelan Sekaten di bawa ke bangsal sekaten untuk ditata agar dimainkan dengan baik pada acara malam harinya. Persiapan menjelang ritual Panjang Jimat bukan hanya terjadi di lingkungan Keraton Kanoman, tetapi juga sampai ke kampung Bendakerep yang merupakan tanah milik Keraton Kanoman, Cirebon.
Dalam ritual Panjang Jimat, warga kampung Bendakerep biasa menyediakan buah kelapa dan hasil bumi untuk di bawa ke Keraton Kanoman. Buah kelapa yang banyak tumbuh di Bendakerep nantinya akan diolah menjadi minyak kelapa untuk keperluan masak dalam rangkaian Panjang Jimat. Menjelang petang, buah kelapa dan hasil bumi dari Bendakerep tiba di Keraton Kanoman. Ini memang jadi semacam persembahan bagi sang pemilik sawah/tanah. Sang pembawa persembahan pun orang terpecaya, Ibu Rodiah dan keturunannya. Air untuk memasak makanan diambil dari sumur kejayaan yang letaknya di lingkungan Keraton. Dengan mengusung pundi-pundi, para abdi dalem dilarang berbicara saat mengambil air. Air ini dipercaya memberi berkah kepada mereka yang memanfaatkannya untuk berbagai keperluan. Menurut pihak Keraton, sumur ini tidak pernah kering, meskipun sedang musim kemarau. (lihat Situs, MD Edisi 16-02-2008).
Situasi Menjelang Ritual Panjang Jimat
Menceritakan tentang situasi menjelang ritual Panjang Jimat memang sesuatu yang sangat berat untuk ditulis. Tetapi dengan Bismillah demi tegaknya Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, berdasarkan yang pernah penulis saksikan setiap tahun mencoba untuk diceritakan walau hanya lewat tulisan kecil ini.
Gambaran situasi menjelang ritual Panjang Jimat persis seperti pada zaman Jahiliyah sebelum Rasulullah Saw dilahirkan (12 Rabi’ul awal). Beberapa tradisi yang mirip dengan situasi Jahiliyah antara lain sebagai berikut: 1) Tradisi menganggap ada Tuhan lain selain Allah SWT (syirik). Hal ini bisa disaksikan di seputar lingkungan Keraton, seperti mengadu nasib, mengalaf berkah, dan penghormatan yang berlebihan terhadap benda-benda pusaka, juga dibukanya praktek-praktek perdukunan. Termasuk juga diantaranya banyak pedagang menjual jimat, isim, wifiq, dan benda-benda lain yang dianggap mempunyai kekuatan atau keramat. 2) Tradisi yang menggambarkan kebejatan akhlak pada masa Jahiliyah. Hal ini bisa dibuktikan dengan maraknya kejahatan dan penyakit masyarakat, misalnya maraknya praktek pencopetan, perjudian, pekerja seks komersil, bahkan pernah juga ada perkelahian antar pemuda gara-gara rebutan areal parkir dan pengaruh minuman beralkohol.
Di samping itu, ada juga situasi yang sangat positif. Selama rangkaian acara Panjang Jimat, para pedagang dan pelaku bisnis mendapatkan keuntungan yang berlipat dibanding hari-hari biasa. Begitu pula dengan para pengemis, tukang semir, abang becak, tukang ojek, dan para sopir mobil angkutan, semuanya ikut kebanjiran rizki. Acara itu juga dijadikan wahana pembelajaran bagi para pelajar dengan melihat berbagai benda pusaka yang mengandung nilai sejarah keemasan kerajaan Cirebon masa lampau. Ada juga yang memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai wahana silaturrahim antar keluarga dan teman sejawat.

Risalah Kenabian
Ada beberapa alasan kenapa Nabi Muhammad Saw diutus ke dunia ini. Alasan-alasan tersebut antara lain :
Pertama, Memurnihkan aqidah yang menyimpang. Dalam Sirah Nabawy dijelaskan bahwa masyarakat Jahiliyah sebenarnya Iman kepada Allah Swt, tetapi keimanan mereka kepada Allah SWT tidak sepenuhnya. Mereka di samping mentauhidkan Allah juga menjadikan Tuhan-Tuhan yang lain selain-Nya. Ketika mereka berdo’a kepada Allah SWT selalu menyertakan patung Latta dan ‘Uzza. Bahkan terkadang mereka mempunyai tradisi yang sangat lucu. Mereka membuat berhala dan patung dari batu atau makanan, lalu mereka menyembahnya. Padahal mereka lebih pandai dari Tuhan-Tuhan itu. Mereka bisa menciptakan Tuhan-Tuhan baru. Sedangkan Tuhan-Tuhan itu tidak bisa menciptakan mereka, apalagi menentukan nasib dan jalan hidup mereka.
Adapun risalah kenabian Nabi Muhammad Saw sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an : “Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : Sembahlah Allah saja dan jauhilah Thaghut.” (Q.S 16:36). Ayat ini menjadi Dalil bahwa semua Rasul pada hakekatnya mempunyai tugas yang sama yakni menyuruh umatnya agar beribadah dan bertauhid hanya kepada Allah SWT, dan menjauhi Thaghut. Menurut Umar bin Khathab, Thaghut adalah syaitan. Menurut Jabir Ra, Thaghut berarti para dukun yang bersekongkol dengan syaitan, sedangkan menurut pendapat Imam Malik, Thaghut ialah segala sesuatu yang disembah selain Allah SWT (Abdur Rahman, 1979:19).
Setelah para Nabi dan Rasul itu wafat, maka tugasnya diwariskan kepada para ulama, sebagaimana Rasulullah saw bersabda : “Ulama adalah pewaris para Nabi.” (Alhadist). Syaikh Syarif Hidayatullah adalah diyakini oleh masyarakat Cirebon sebagai seorang ulama Kharismatik dan menjadi pewaris tugas para Nabi. Melalui Petatah Petitihnya “Ingsun titip tajug lan fakir miskin”, menggambarkan bahwasanya Kanjeng Sunan sangat serius mengajak masyarakat Cirebon agar meyakini Tidak ada Tuhan selain Allah, Tidak ada yang disembah kecuali Allah, dan Tidak ada tempat berlindung dan mengadu kecuali Allah SWT. Sebaliknya beliau sangat membenci dan marah kepada masyarakat Cirebon yang bersekutu dengan Thaghut, seperti tergambar dalam “Ingsun titip tajug”. Oleh karena itu, andai saja Kanjeng Sunan Gunung Jati masih hidup, tentu saja beliau akan marah kepada masyarakat Cirebon karena mereka menjadikan kuburannya sebagai tempat mencari berkah dan menjadikan benda-benda pusakanya sebagai Ilah. Padahal semua itu merupakan Thaghut yang harus dijauhi.
Kedua, Menyempurnakan Akhlak sebagaimana terurai dalam Sabda-Nya: “Sesungguhnya aku diutus Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak” (Alhadist). Sekali lagi, andaikan Kanjeng Sunan masih hidup, Beliau pasti marah kepada masyarakat Cirebon, karena mereka menjadikan acara Mauludan sebagai ajang untuk bermaksiat ria, hal ini terlihat dalam semaraknya perjudian, pencopetan, mabuk-mabukan, dan pelacuran yang tersebar di sekitar komplek acara tersebut.


Hakekat Mauludan
Dari paparan di atas nampaknya pemahaman masyarakat tentang makna Mauludan, semakin bertambah tahun semakin mengalami Erosi. Seharusnya pemahaman semakin tinggi tentang hakikat makna Mauludan. Karena dewasa ini masyarakat Cirebon sudah menjadi masyarakat terpelajar.
Melalui tulisan ini diharapkan masyarakat mengetahui dan memahami hakekat makna Mauludan. Bahwa hakekat makna Mauludan itu adalah memperingati hari lahir Nabi akhir zaman Muhammad Saw, agar umat Islam mengerti bagaimana sejarah hidup, perjuangan dan ajaran-ajaran-Nya, kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti dalam firman Allah SWT: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Q.S 33:21).
Setelah acara Mauludan selesai, diharapkan membawa perubahan bagi umat Islam menuju ke arah yang lebih baik. Sebelum Mauludan ibadah shalat, zakat dan puasa sering diabaikan, setelah Mauludan diharapkan lebih serius lagi dalam menunaikan kewajiban sebagai hamba. Juga diharapkan membawa peningkatan Iman dan Taqwa bagi umat Islam, sehingga menjadi umat pilihan (khairu umat) yang selalu istiqomah dalam menegakkan Amar ma’ruf dan Nahi munkar.
Tradisi Mauludan yang ada di Cirebon harus dilestarikan dengan baik untuk pembelajaran generasi yang akan datang, hal-hal yang mengotori hakekat makna dari Mauludan sebaiknya segera dibersihkan dan diluruskan. Tugas Kantor Departemen Agama Kota Cirebon yang paling mendesak adalah membimbing dan mengarahkan para Kuncen dan petugas yang terkait, agar menginformasikan kepada para pengunjung jangan sampai terjebak dalam jurang kemusyrikan. Begitu juga aparat keamanan, agar menindak tegas siapa saja yang melakukan praktek-praktek maksiat yang menimbulkan Kota Wali ternoda.
Demikian uraian sederhana ini disampaikan semoga menjadi pencerahan bagi masyarakat menuju Cirebon Kota Wali yang berperadaban tinggi. Wallahu A’lam.


* Penyuluh Agama Islam Kec. Plumbon
Alumni Pesantren Darussalam Ciamis


Tidak ada komentar:

Posting Komentar